SANGGUPKAH KAMPUS ISLAMI BERMANAJEMEN BAROKAH?

Oleh : Rifyal Luthfi MR.

Manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Manajemen menjadi sangat penting artinya dari segala aspek kehidupan. Karena itu manajemen menjadi icon yang urgen baik secara individual maupun secara kelompok. Para ilmuan bermacam-macam dalam mendefinisikan manajemen walaupun esensinya bermuara para satu titik temu.Pengertian manajemen yang paling sederhana “adalah seni memperoleh hasil melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang lain.”

Menurut John D Millet, “manajemen ialah suatu proses pengarahan & pemberian fasilitas kerja kepada orang-orang yang telah diorganisir dalam kelompok-kelompok formal yang mencapai tujuan yang diharapkan.”

James F. Stoner, berpendapat bahwa “manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan para anggota dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.” Sedangkan Menurut George R. Terry bahwa “manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan orang lain.

Dari beberapa definisi tersebut bisa dipetakan yaitu; manajemen sebagai ilmu pengetahuan bahwa manajemen memerlukan ilmu pengetahuan dan manajemen sebagai seni dimana manajer harus memiliki seni atau keterampilan memanej.

Menurut S. Mahmud Al-Hawary Manajemen (Al-Idarah) Ialah mengetahui kemana yang dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan-kekuatan apa yang dijalankan, dan bagaimana mengemudikan kapal anda serta anggota dengan sebaik-baiknya tanpa pemborosan waktu dalam proses mengerjakannya. Dari definisi tersebut memberi gambaran bahwa manajemen merupakan kegiatan, proses dan prosedur tertentu untuk mencapai tujuan akhir secara maksimal dengan bekerja sama sesuai jobnya masing-masing.

Meminjam Istilah Manajamen Barokah Kampus STAI Tasikmalaya, di bawah kepemimpinan Dr. H. Kholis M., M.Pd. akan sangat relevan dengan konsep islam yang sering dikemukakan di PTKI seluruh Indonesia. Hal ini dikemukakan juga pada acara Pembinaan dan penyerahan SK penghargaan Kampus terbaik cluster Sekolah Tinggi Agama Islam oleh Koordinator Kopertais wil. II Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. bertempat di STAI Tasikmalaya.

Berkah berasal dari bahasa Arab: barokah (بركة), artinya nikmat. Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Sedangkan menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan”.

Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah meterial dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak dan usia.

Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: Tumbuh, berkembang, atau bertambah dan Kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”. Dalam keseharian kita sering mendengar kata “mencari berkah”, bermaksud mencari kebaikan atau tambahan kebaikan, baik kebaikan berupa bertambahnya harta, rezeki, maupun berupa kesehatan, ilmu, dan amal kebaikan (pahala).

Tulisan ini mengetangahkan bagaimana kampus Islami yang mendatangkan keberkahan dengan melalui manajeman barokah. Hal ini Insyaalllah dapat ditempuh dengan beberapa cara yakni:

  1. Prinsip Kelembutan, yakni apabila kelembutan diterapkan pada apa pun pasti akan menghiasinya, dan bila dicabut darinya pasti akan memperburuknya. Lemah lembut dalam bertutur kata, senyum yang menghiasi wajah, dan kata-kata yang baik saat bersua, merupakan perhiasan yang dikenakan oleh orang-orang yang beriman. Artinya manajeman yang pertama adalah bagimana memperbaiki diri melalui pelayanan yang maksimal dan penuh dengan perhatian yang dibalut dengan senyum kelembutan dari seluruh civitas akademik.
  2. Prinsip Menjaga (memelihara), Ketahuilah bahwa itu adalah sifat-sifat orang yang beriman. Ia bagaikan lebah yang hanya makan yang baik dan membuat hal yang baik pula. Apabila ia hinggap pada bunga, ia tidak mematahkannya. Demikian itu karena Allah memberikan kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada sikap kasar. Kasat matanya adalah berkeadilan adalah cara pemeliharaan manajemen yang baik.
  3. Prinsip Ketokohan, kita bisa melihat bahwa di antara manusia memang ada orang-orang yang kedatangannya menjadi pusat perhatian semua orang, semua pandangan mata tertuju padanya, hati semua orang hormat kepadanya, dan jiwa semua orang Demikian itu mereka adalah orang-orang yang disukai semua orang sepak terjangnya, baik saat mereka bicara, saat mereka menerima dan memberi, saat mereka bersua dan berpisah. orang-orang yang mulia lagi berhati tulus. Dan hanya merekalah yang selalu diliputi oleh kekaguman dari orang lain. Jika hadir, mereka menebarkan kegembiraan dan kesenangan kepada orang lain, dan jika tidak hadir, mereka selalu ditanya dan didoakan kebaikan buat mereka. Sesungguhnya mereka yang berbahagia itu mempunyai panduan budi pekerti yang mottonya adalah “Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik. Jika kamu melakukan demikian, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (Qs. Fushshilat).
  4. Prinsip Pemaaf, hal ini dapat menghisap kedengkian orang lain berkat kasih sayang mereka yang menggelora, sikap santun mereka yang hangat, dan pemaafan mereka yang tulus. Mereka melupakan hal yang buruk dan memelihara hal yang baik. Semua kalimat yang pedas lagi tajam tidak pernah mereka masukan ke dalam hati dan itu hanya sebatas lewat ditelinga mereka saja. Bahkan mereka buang jauh-jauh untuk tidak kembali selama-lamanya.
  5. Prinsip Menjaga lisan, jika hal ini dilakukan maka akan hidup dengan tenang. Orang lain merasa aman dengan mereka dan kaum muslim merasa damai dengan mereka, “Orang muslim yang sesungguhnya adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari ulah lisan dan tangannya. Orang mukmin yang sesungguhnya adalah orang yang orang-orang lain merasa aman dari gangguannya, baik dalam jiwa maupun harta mereka.”
  6. Prinsip Keikhlasan, ini merupakan hal yang sangat urgen yakni menerima yang ada dengan baik, dan mengupayakan akan adanya yang lebih baik. Artinya keikhlasan itu adalah pemurnian, yaitu segala sesuatunya diniatkan karena Allah ta`ala. Keikhlasan merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah ta`ala, janji Allah dalam surah A-Thalaq: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka.”
  7. Prinsip Muhasabah, baik bagi diri maupun berjamaah dari civitas akademik dengan konsep spiritual building secara Hal ini berisi mengenai evaluasi dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksaan dan penilaian dalam menjalankan amanah umat, yakni dipercaya sebagai pemegang kendali pendidikan islam untuk perbaikan dimasa mendatang.

Dengan Implementasi prinsip manajeman barokah tersebut insyaallah Civitas akademika PTKI diseluruh indonesia akan menjadi wasilah menuju keridhoanNya. Aamiin.

Hasbunallah wani`mal wakil