PETA JALAN PENDIDIKAN INDONESIA DARI TANTANGAN MENJADI PELUANG

PETA JALAN PENDIDIKAN INDONESIA :

DARI TANTANGAN MENJADI PELUANG

 

Oleh :

Dede Aji Mardani,

Muhammad Abduh

 

Isu mengenai pendidikan sangat penting untuk di kaji secara simultan. Pendidikan memegang peranan yang urgent demi kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa untuk kehidupan yang berkelanjutan. Tingkat keberhasilan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa seriuskah bangsa itu mengurus dan menangani masalah pendidikan yang begitu komplek dan berdampak sistemik.

Sebagai contoh negara negara yang tergabung dalam negara maju G20 (growth twenty), semua negara maju lebih memprioritaskan pendidikan di bandingkan dengan program program yang lainnya karena pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa. Sesuai dengan misi PBB yang bertemakan tentang Suistinable Development Goals (SDG) yaitu kesamaan pendidikan untuk semua insan yang berkembang secara berkelanjutan peta jalan (road map) ini, telah disetujui setidaknya oleh 180 negara .

Mereka berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan di belahan dunia. Jika tingkat pendidikan dan peradaban maju maka bisa di pastikan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran dapat dirasakan. Potret pendidikan di Indonesia masa lalu dan sekarang Indonesia memiliki garis sejarah pendidikan yang sangat panjang dan penting.

Dimulai sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit jika bisa di sandingkan dan dipersamakan dengan bangsa bangsa lain di Eropa, Amerika dan Negara teluk Arab, bisa di simpulkan bahwa bangsa Indonesia penerapan masalah pendidikan masih dalam tahap tradisional, karena tingkat pendidikan belum dilihat sebagai faktor perubahan peradaban pada masa itu. Meskipun demikian tempat tempat pembelajaran atau madrasah sudah ada dan banyak menjadikan tempat pelatihan dan keterampilan

Buktinya bisa dilihat pada ornamen, candi, yang melukiskan tentang kegiatan belajar mengajar, berbeda dengan bangsa Eropa, Amerika dan negara jazirah arab pada saat yang hampir bersamaan situasi dan peradaban mereka lebih maju di bandingkan dengan Indonesia. Pun demikian pada masa penjajahan Belanda kawasan kawasan di Asia mengalam penjajahan luar biasa mulai dari Jepang, China termasuk Indonesia.

Sejalan dengan itu, bangsa bangsa Eropa telah lebih maju dalam pola pikir dan peradabannya. Mereka telah memikirkan bagaimana dan dimana negara yang mempunyai keadaan sumber daya alam yang melimpah untuk dijadikan ekspolasi dan eksploitasi. Memakai teori Gold, Glory dan Gospelnya. Misi bangsa Eropa saat itu sudah mulai memikirkan pendapatan dari negara negara perwakilan di negara lain dengan sistem ekonomi merkantilismenya .

Bukti bahwa bangsa Eropa telah maju adalah dengan adanya kastil-kastil, istana, gerja, benteng pertahanan dan bangunan yang mempunyai nilai estetika, seni yang tinggi dan telah menjadi warisan dunia begitupun dengan sistem perpolitikan, ekonomi, budaya bangsa eropa lebih maju di bandingkan dengan negara Asia termasuk Indonesia. Yang perlu di sampaikan disini bahwa bangsa bangsa tersebut telah meletakan pondasi pendidikan sebagai pilar yang sangat penting. Tokoh tokoh fisika, kimia, otomotif, pengetahuan alam serta humaniora telah banyak di ciptakan dan temukan di daratan Eropa.

Perguruan perguruan Tinggi ternama telah mampu mencetak ilmuan-ilmuan untuk kemajuan dunia dan kemaslahatan untuk umat manusia. Jadi wajar saja sekarang kawasan Eropa dan Amerika sekarang menjadi Negara yang maju karena dari aspek sejarah pun mereka telah lebih dulu membangun dan mementingkan pendidikan daripada yang lainnya.

Seiring dengan masa kolonial dan penjajahan itu, telah muncul beberapa tokoh penting di Indonesia. Dalam pergerakannya para tokoh Indonesia berinisiasi untuk bisa merebut kemerdekaan dan melepaskan diri dari belenggu para imperialis negeri. Muncullah Budi Utomo, Agus Salim, Tjoro Aminoto, Sukarno dan Tokoh tokoh bangsa lainnya yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia . Mereka adalah tokoh bangsa yang berberpendidikan di sekolah-sekolah Belanda, namun memang harus diakui dari taraf ekonomi para tokoh perubahan dan pergerakan bangsa Indonesia itu cukup mapan dan dari kalangan ningrat karena biaya masuk ke sekolah Belanda pun cukup mahal.

Pada masa orde lama pemerintah Indonesia banyak menerima pertukaran guru atau dosen dari Malaysia. Bangsa Malaysia memiliki visi dalam memajukan negaranya, sehingga banyak yang dikirim keluar negeri termasuk ke Indonesia. Malaysia kini dapat menikmati hasilnya dari investasi pendidikannya, bahwa negara tetangga Malaysia telah mentransformasikan diri menjadi negara yang perkermbangannya cukup tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia mulai dari sarana pendidikan tinggi, industri minyak, olah raga dan lain lain. Indonesia saat itu lebih mementingkan pembangunan fisik dan gedung bertinggkat bukan pada human invesmentnya.

Pandangan Islam terhadap Pendidikan Sebagai penganut mayoritas penduduk Muslim dunia, Indonesia sekarang memiliki komitmen yang tinggi terhadap pendidikan. Lembaga lembaga Islam seperti madrasah dan pesantren telah menjadi perhatian serius pemerintah dalam pengembangan kualitas sarana dan pendidikannya. Selain itu parlemen memberikan perhatian yang lebih terkait dengan peningkatan kapasitas dan kualitas pendidikan di tanah air

Kenyataan ini terlihat jelas pada porsi anggaran pemerintah yang mengalami beberapa peningkatan dalam stuktur ABPN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), yang berada pada tingkat 20% dikhususkan untuk pendidikan. Selain itu banyak program beasiswa dalam dan luar negeri yang ditawarkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, tanpa kecuali .

Berangakat dari uraian diatas penulis sengaja menyoalkan antara pendidikan dan Islam. Selain karena faktor mayoritas tentunya Islam sebagai agama yang mempunyai perhatian terhadap pentingya pendidikan. Seperti dalam Al Quran Surat Al Mujadalah ayat 11 di sebutkan bahwa “Allah akan mengangkat Orang yang beriman dan Berilmu beberapa derajat/ tingkatan”. Ini menandaka bahwa Islam sangat menganjurkan agar orang berlomba-lomba dalam mencari ilmu atau berpendidikan agar derajat atau tingkat kehidupan pribadi, bangsa dapat terangkat.

Orang yang berimu sifatnya umum bangsa atau negara mana saja apabila mereka berilmu maka derajatnya akan terangakat tinggi dan dihormati itulah kedudukan terkait pentingnya ilmu. Selain ayat Quran ada juga beberapa hadist yang di kemukakan oleh nabi Muhammad tentang keutamaan pendidikan. Misalnya ia bersabda hukumnya mencari ilmu adalah fardu ain (individu) bagi setipa muslim dari sejak bayi hingga meninggal. Atau hadist tentang keutamaan mencari Ilmu meskipun ke negara China. Dan banyak lagi ayat Quran atau Hadist yang menganjurkan tentang pentingnya menggapai pendidikan, anjuran, keutamaan ilmu dan pentinya pendidikan untuk kaum muslimin.

Pendidikan bagi semua orang (Education for all) Pendidikan layak diterima oleh semua orang tanpa terkecuali. Negara menjamin semua insan Indonesia untuk mendapatkan hak haknya dalam menempuh pendidikan. Telah tersedianya semua fasilitas pendidikan merupakan upaya yang sungguh sungguh pemerintah Indonesia untuk memajukan tarap hidup dan kehidupan masyarakat Indonesia melalui pendidikan.

Misalnya ada pendidikan khusus untuk orang yang mengalami keterbatasan fisik dan mental disediakannya pendidikan luar biasa (SLB), pendidikan untuk yang belum menyempurnakan jenjangnya (PAKET A,B DAN C) atau pendidikan yang berbasis home scholing. Cara ini dilakukan agar semua orang Indonesia terfasilitasi dan mempunyai kesamaan hak dasar dalam memperoleh pendidikan. Selain semua fasilitas bentuk formal dan non formal pendidikan, pemerintah Indonesia memberikan beasiswa bagi para peserta didik yang mempunyai keterbatasan dana untuk menempuh pendidikannya.

Selama ini pemerintah menjamin keberlangsungan pendidikan gratis ini untuk SD sampai dengan SMP, kedepan pemerintah Indonesia memberikan pendidikan gratis untuk tingkat SMU sederajat. Fasilitas beasiswa diberikan sampai dengan tingkat Doktor. Hal ini menjadi komitmen pemerintah Indonesia dalam memajukan sumber daya insaninya untuk bisa bersaing dengan negara negara lain. Komitmen dan usaha pemerintah ini bisa dilihat keberhasilan mengurangi tingkat melek buta hurup dan indeks prestasi manusia (IPM) yang dirilis dari Statistika Indonesia tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 70.81 pada tahun 2017 dari 70.18 tahun 2016 untuk mengukur tingkat keberhasilan tingkat pendidkan di suatu negara atau daerah.

Jumlah persentase penduduk berumur 15 Tahun ke atas yang melek huruf menurut golongan umur dan daerah tempat tinggal untuk tahun 2016 dan 2017, trennya mengalami peningkatan pada semua usia dan penjumlahan anatara kota dengan desa kecuali pada usia 40–50 tahun meskipun mengalami peningkatan, tetapi terdapat pelambatan terutama yang berada di pedesaan Peran pendidik untuk memajukan Pendidikan Di Indonesia Masalah pendidikan tentunya tidak akan pernah terlepas dari pendidik, bisa guru atau dosen.

Kualitas pendidikan secara nyata bisa di bandingkan dengan kualitas pendidiknya. Semakin bagus pendidiknya maka bisa dikatakan akan menaikkan kualitas peserta didiknya. Masalah yang terjadi di Indonesia masih banyaknya pendidik yang tidak terfokus pada bidang profesinya. Banyak diantara kalangan guru atau dosen mempunyai rangkap jabatan dalam pekerjaan, sehingga tidak memberikan konsentrasi yang khusus dalam bidang pengajaran. Banyak diantara guru yang sampai dengan tulisan ini di buat gaji atau honornya masih minim, guru atau pendidik di pedalaman atau di perbatasan, kekurangan sarana dan prasarana, dan kenaikan status sosial.

Masalah-masalah ini bisa menjadi persoalan dari waktu ke waktu, adanya demonstrasi guru tentang keadilan terkait dengan status honorer, kalaikan honor sampai pengangkatan jadi PNS itulah beban yang di tanggung pemerintah. Pemerintah Indonesia sebenarnya berkomitmen untuk menyejahterakan para guru. Namun masih terkendala pada masalah alokasi dana dan anggarannya.

Dana yang dianggarkan oleh pemerintah sebanyak 20 % dari APBN bukanlah untuk honor atau gaji guru tetapi hanya untuk pemenuhan fasilitas, sarana dan prasarana kelas saja yang jumlahnya sangat banyak yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sebagia contoh untuk SD untuk tahun 2014 sebanyak 147.513, tahun 2015 sebanyak 147.536 dan tahun 2016 147.503. Sedangkan untuk tingkat SMP untuk tahun 2014 sebanyak 36.518, tahun 2015 sebanyak 37.023 dan untuk tahun 2016 sebanyak 37.763 sekolah. Sedangkan untuk tingkat SMU tahun 2014 sebanyak 12.513, tahun 2015 sebanyak 12.689 dan tahun 2016 sebanyak 13.144. Dan untuk perguruan Tinggi tahun akademik 2016/2017 untuk negeri sebanyak 122 Perguruan Tinggi dan untuk perguruan tinggi swasta 3.154 .

Berbeda dengan negara China atau negara yang lainnya pemenuhan sarana dan prasarana telah terpenuhi lalu mereka lebih konsen terhadap pemenuhan gaji. Dan jika dibandingkan dengan negara negara lain porsi anggran 20% jauh lebih tinggi di bandingkan dengan negara negara lain. Peningkatan kualitas pendidik selain dari segi konpensasi, pemerintah pun memberikan fasilitas pelatihan hingga beasiswa untuk guru dan Dosen. Misalnya ada LPDP atau Mora 5000 doktor, beasiswa tersebut di berikan sebagai upaya untuk peningkatan dan mengkatrol kualitas guru atau dosen.

Selain di bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerintah Indonesia memberikan bantuan lewat negara negara donor atau asosiasi negara negara muslim (OKI) dalam mendanai fasilitas pendidikan, laboartorium, perpustakaan, lembaga riset semuanya di berikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pendidikan pemerintah yang di peroleh selain dari pada porsi APBN. Selain pemberian beasiswa di dalam negeri pemerintah memberikan beasiswa ke luar negeri yang telah bekerja sama dengan pemerintah indonesia yang telah ditunjuk dan di sepakati bersama antara kedua negara. Ada juga pengiriman dan pertukaran guru, dosen dan murid dari berbagai negara.

Kontribusi pemerintah Indonesia dalam pertukaran dan short course ini memberikan bekal yang cukup dalam studi stategi pencapaian untuk penyamaan kualiitas guru dan dosen yang setara dengan negara negara maju. Model Pendidikan berbasiskan teknologi informasi terintegrasi antara sosial dan kultural Fenomena sekarang ini pendidikan mengarah kepada penggunaan teknologi 4.0 yang bermakna bahwa teknologi memegang peran yang sangat vital. Kemajuan teknologi tidak bisa di tawar tawar lagi. Seorang pendidik dan peserta didik harus mampu beradaptasi dengan teknoogi, meskipun demikian teknologi bukan merupakan faktor kemajuan dalam keberhasilan pada dunia pendidikan.

Model pendidikan berbasis teknologi ini menekankan pada keterampilan pendidik dalam melakukan persiapan, dan proses dalam dunia pembelajaran. Dimana semua hal yang akan disampaikan bisa ambil rujukan (reference) dan dibandingkan dengan materi yang telah ada. Metode pembelajaran, fasilitas pembelajaran, modul dan praktek dalam persiapan pembelajaran pun sekarang sudah banyak tersedia. Ebook dan elibrary menjadi suatu keniscayaan dalam mengambil sumber dan rujukan dalam penyiapan materi pembelajaran.

Demikian juga bagi peserta didik baik murid atau mahasiswa dalam memperoleh materi dan penambahan wawasan keilmuan tidak hanya cukup dari pembelajaran di kelas, tetapi bisa menggunakan akses internet seperti googling, youtobe, dan website resminya. Hal ini memberikan kemudahan akses pembelajaran materi-materi yang akan atau telah disampaikan, tidak saja tersimpan dalam bentuk tulisan manual/buku tetapi bisa disimpan dalam komputasi awan (cloud). Media media konvensional sekarang sudah mulai di tinggalkan.

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelegence (AI) telah menggesesr nilai nilai humanis, sosial dan kepekaan terhadap sesama . Itulah efek negatif dari kemajuan teknologi, tetapi semuanya kembali kepada usser atau manusia yang menggunakan teknologi itu. Efek dari intensifnya media online dan internet telah mengurangi kepekaan sosial dalam menghadapi kesulitan pembelajaran, gotong royong dalam pengerjaan tugas, tidak dapat secara langsung bisa berinteraksi dengan sesama, karena masing masing individu telah mempunyai cara berhubungan dengan konektiitas tanpa batas. Pola kekerabatan, silaturahmi dan humanistiknya telah terkikis dan berkurang karena efek kecerdsasn buatan itu.

Hubungan guru atau dosen dengan peserta didik menjadi renggang dan bersifat individu telah melunturkan sifat sifat sosial dan kesetiakawanan. Begitu pula permianan asli Indonesia sekarang telah di tinggalakan, dengan cara permainan game dan game online melalui gadget dan HP. Selain masalah sosial dan hubungan emosional antara pendidik dan peserta didik yang memudar, masalah lain yang di hadapi adalah ketidak merataan daerah yang mempunyai akses internet. Seperti daerah daerah pedalaman di Indonesia, pesisir atau daerah yang sulit di jangkau oleh media internet juga yang menjadi hambatan adalah mahalnya biaya internet di Indonesia di bandingkan dengan negara negara lain di Asia.

Gap atau ketimpangan ini menyebabkan ketidakseimbangan arus informasi dan keseimbangan pendidikan antar kawasan di Indonesia. Ketimpangan pendidikan antara kota dan desa akan mengakibatkan kekurangan akses informasi tentang politik, ekonomi, budaya dan ilmu pengetahuan sebagai arus utama dalam perubahan. Ketika semua itu terjadi maka yang akan terkena dampaknya adalah masyarakat yang mempunyai kualitas sumber daya manusia yang rendah, pendidikan rendah, pendapatan yang rendah, pengangguran terstuktur yang tinggi, buta akan perkembangan politik sosial dan lain lainya.

Alasan lainnya yang merupakan pondasi pentinya pendidikan era modern adanya singkronisasi pentuk bentuk pendidikan di negara negara luar. Dari uraian diatas penulis mencoba mengkrucutkan permasalahan dan solusi yang di tawarkan, agar pendidikan kedepan mempunyai arah dan roadmap yang jelas dan berkelanjutan .

Pendidikan berbasiskan Karakter dan Moralitas Setelah mengentahui dampak positif dan negatif dari pendidikan distruptif 4.0, pendidikan berperan dalam membangun basis karakter dan moralitas. Tujuan agung dari pendidikan pada esensinya adalah perubahan watak, prilaku dan moralitas. Pendidikan yang berlandaskan moralitas sangat dihargai dibandingkan dengan tingkat tingginya jenjang pendidikan setidaknya itulah gambaran nyata yang terdapat dalam masyarakat.

Penulis menyadari sepenuhnya penghargaan masyarakat terhadap yang berkarakter dan bermorallitas tinggi akan lebih di hargai, selain itu dampak kemanfaantan dari ilmu yang di peroleh dalam kelas bisa di berdayakan dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan yang berbasiskan karakter dan moral memberikan pengaruh yang luar biasa besarnya.

Pendidikan berbasiskan karakter dan moral harus di tanamkan sejak belia sampai perkuliahan karena prilaku tersebut akan membawa saling berkaitan satu sama lainnya. Fenomena yang terjadi seperti budaya kerusuhan, tawuran antar pelajar dan mahasisiwa, prilaku koruptif dan free sex merupakan titik lemah dari sistem pendidikan yang selama ini dibangun.

Bayangkan saja bagaimana nilai nilai religiusitas dan moralitas diberikan proporsi yang minim di bandingkan dengan mata pelajaran/kuliah yang umum, padahal waktu yang bersinggungan dengan masyarakat sekitar sangat panjang. Nilai nilai kejujuran, kasih sayang, tolong menolong sekarang ini sangat sulit di temukan di lingkungan kita.

Sikap yang lebih mementingkan nilai individualistik dan hedonisme telah mendominasi peserta didik kita . Karakteistik yang menyimpang dari esensi pendidikan bisa berdapak pada kejahatan dan tindakan kriminal. Itu nampaknya sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan menurut laporan BPS tahun 2018 jumlah kriminal dari tahun 2014 sebanyak 325.317, tahun 2015 sebanyak 352.936 dan tahun 2016 sebanyak 357197 kasus. Tindakan kejahatan dan tindakan kriminal seperti misalnya geng motor remaja, pembunuhan dan banyak dilakukan oleh remaja. Prilaku yang menyimpang dari esensi pendidikan pada usia dewasa dan orang tua bergeser kepada prilaku koruftif dan manipulasi.

Muara ini bersumber dari faktor pendidikan, itulah salah satu analisis dari penulis selain banyak faktor yang memengaruhi tingkat kejahatan, kriminal dan amoral. Persoalan kedua sebagai solusinya adalah prilaku atau suri tauladan dari para pendidik dan pemimpin di semua level. Anak dan mahasiswa cenderung akan meniru prilaku yang diatasnya.

Ketika prilaku atasan mencerminkan karakteristik yang terpuji bisa di pastikan peserta didiknya meniru prilaku tersebut, pun sebaliknya. Krisis kepemimpinan saat ini merupakan faktor yang mendesak untuk segera di benahi. Individu individu yang memberikan contoh yang baik akan bersinergi dan memberikan aura yang positif bagi lingkungan sekitarnya.

Inovasi dan terobosan dalam metode pembelajaran yang berbasiskan karakter dan moral akan memberikan revolusi prilaku komunal. Integrasi dan singkronisasi antara pendidikan berbasiskan karakter dan moral dan kecakapan dalam penguasaan media informasi dan teknologi merupakan bekal untuk menyambut masa depan yang lebih berdaya manfaat untuk kesejahteraan umat manusia.

Pendidikan berwawasan ekologi dan Wirausaha Perhatian yang serius dari semua kalangan sekarang ini tertuju pada kerusakan alam, ketidakseimbangan kosistem di daratan dan lautan. Sudah banyak kerusakan- kerusakan di dua alam tersebut yang mengakibatkan ketidak seimbangan hayati. Kasus tercemarnya air sungai, lautan, pencairan es di antartika, distribusi plastik, emisi tingkat tinggi untuk Jakarta dan beberapa provinsi besar di Indonesia, penebangan hutan dan pemburuan hewan langka, penggundulan hutan, yang bisa mengakibatkan longsor, banjir badai angin dan berbagai musibah yang sulit penangannya oleh manusia jika di urut dengan teliti semuanya bermuara pada karakteristik umat manusia sekarang menjadi perhatian dunia secara umum. Secara perlahan menurut hal tersebut bisa di kurangi secara bertahap melalui pedidikan yang berwawasan lingkungan dan ekologi.

Ekosistem tentang pendidikan ini harus diterapakan sejak bangku sekolah dasar agar menjadi bekal kedepannya, bahwa perusakan terhadap alam akan menimbulakn bencana bukan saja bagi pelakunya tetapi juga untuk orang lain. Pendidikan berwawasan Wirausaha Yang terakhir solusi yang ditawarkan adalah dimensi pendidikan berwawasan wirausaha. Betapa tidak pengguran di Indonesia memang mengalami penurunan dari tahun ketahun.

Seperti yang dilaporkan oleh BPS tahun 2018 bahwa penganguran untuk tahun 2017 sebanyak 5.5% dari jumlah penduduk 261,9 juta . Namun janganlah dilihat dari jumlah prosentasenya tetapi harus dilihat dari jumlah angkanya. Hal ini terjadi karena kran atau pintu kerja begitu sedikit atau terbatas berlawanan dengan jumlah angkatan kerja atau lulusan sekolah maupun kuliah yang terus bertambah jumlahnya, sehingga angkatan kerja dan lowongan kerja yang tersedia cukup sedikit.

Kondisi ini berlawanan dengan jumlah demografis yang semakin tahun terus meningkat, masalah keterampilan teknis, keahlain, pendidikan dan miss antara link and mach adalah alasan alasan yang menjadi domain dari banyaknya pengangguran dan jumlah angkatan kerja yang tidak produktif. Indonesia menjadi negara yang minim akan jumlah wirausahanya di bandingakn negara asia tenggara hanya 1% . Kendala yang mesti diperbaiki menjadi solusi adalah dengan memberikan pendidikan kewirausahaan. Pola pikir yang ada sampai sekarang adalah bagaimana bekerja di belakang meja dan kantoran, padahal nilai kemanfaatannya hanya untuk diri dan kelurga saja.

Bandingkan dengan membuka lapangan usaha atau berwirausaha akan membuka lapangan kerja, akan memberikan banyak kesempatan yang terbebas dari dunia pengagguran. Potensi potensi usaha, keunggulan daerah harus terus di gali dengan berbagai inovasi yang unik sehingga bisa bersaing dengan perusahaan lain. Pendidikan kewirausahaan mestinya dimulai dari bangku SMP untuk mengasah instuisi setiap siswa dengan cara membuka usaha yang bersumber dari berbagai hobinya masing masing (bisnis plan).

Ekosistem ini harus terus dilanjutkan sampai dengan mahasiswa, apalagi sekarang sudah jaman milenial dengan berbagai teknolgi informasi. Perlahan tapi pasti keadaan ini bisa merubah mayoritas pemuda potensial dari pemikiran bagaimana bekerja bagaimana membuka peluang kerja untuk kesejahteraan umat manusia secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Abaz Zahra. “Konstalasi Geo Politik Dan Geografi Sosio Religius Nasional 1.” Jawa Tengah, 2007. Adnan, Muhammad. “Nahdlatul Ulama Dan Negara Bangsa.” Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan 2, no. 1 (October 20, 2017): 19–25. https://doi.org/10.14710/JIIP.V2I1.1631.

BADAN PUSAT STATISTIK. STATISTIKA INDONESIA 2017. Edited by Sub Direktorat Publikasi dan Kompilasi Statistik. JAKARTA: Badan Pusat Statistik, 2017. https://doi.org/1101001.

I Gde Pitana. Kearifan Lokal Di Tengah Morednisasi. Edited by Ade Makmur. Ade Makmur. Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, 2011. puslitbangbud@budpar.go.id.

Priyono, and Zainudin Ismail. Teori Ekonomi Solow. Edited by Teddy Chandra. Pertama. Surabaya: Dharma Ilmu, 2012.

Rohim, Nur. “Sprit Ekonomi Islam Dalam Tafsir Konstitusi Republik Indonesia Guna Terciptanya Kesejahteraan Rakyat.” Al Infaq 4, no. 1 (2013): 1–16.

Tambuanan, Tulus. Perekonomian Indonesia (Kajian Teoritik Dan Analisis Empiris). Jakarta: Erlangga, 2014.

Yudi Latif. Inteligensia Muslim Dan Kuasa (Genealogi Inteligensi Muslim Indonesia Abad Ke-20). Digital. Jakarta: Mizan, 2012. www,abad-demokrasi.com.

Website : http//sustainabledevelopment.un.org di akses pada 27 Juni 2019