MENJADI SANTRI YANG NYANTRI

Oleh : Rifyal Luthfi MR.

Santri merupakan sebutan bagi murid dari Kyai (ulama) yang dididik mental spiritualnya untuk dibekali pengetahuan keagamaan serta bermental kemandirian yang progres baik pendidikannya secara langsung maupun tidak langsung.

Penamaan Santri yang sudah sangat familar ditelinga seluruh masyarakat Indonesia dengan peran dan fungsi dari santri tersebut mencirikan bahwa negara ini mempunyai benteng yang sangat kokoh dan sebuah simbol islamisasi di Nusantara Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia salah satu faktornya adalah peran santri dan para kyainya. Hal ini mengindikasikan bahwa santri juga merupakan sosok yang sangat fundamental dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hari Santri Nasional (HSN) yang hari ini diperingati tentunya membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas muslim. Namun jugakemungkinan dikhawatirkan adanyaoknum yang merasuk dan memanfaatkan moment tahunan ini untuk ajang memperlihatkan atau pamer kekuatandemi kepentingankelompok/golonganyang berdampak pada perpecahan dikalangan umat. Naudzubillah

Hal ini mestinya menjadi perhatian khusus bagi kyai dan santrinyabahwa kunci utama dalam menjaga NKRI adalah dengan mengedepankan kebersamaan silih asah, silih asih dan silih asuhArtinya,  penyadaran bagi para kyai untuk bisa mengayomi dan tidak memilah milah santri yang berasal dari mana, tetapi seluruh kyia peran dan fungsinya sama yakni, menjadi (Uswatun Hasanah) suri tauladan bagi santri-santrinya dan pemersatu umat kapanpun dimanapun. Begitupun peran santri yang tidak membeda-bedakan kyai, bahwa siapapun, dari manapun kyai itu berasal dan bermukim, maka keta`dziman kepadanya adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada alumni santri dan tidak ada bekas Kyai, tidak pula terbatas tempat dan juga waktu.

Santri yang luar biasa adalah santri yang nyantri, artinya santri yang mampu mengejawantahkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Dalam hal ini santri mesti mempunyai prinsip Differentdan Distingsiyakni, sebuah prinsip untuk menjadikan diri santri berbeda  dan unggul denganyang lainnyadalam mengarungi sebuah proses kehidupan.

Maksudnya berbeda dalam hal ini adalah berbeda dengan meningkatkan potensi keunggulan dan kelebihan yang dimiliki oleh santri, tentunya dalam hal yang positif dan juga bermanfaat bagi seluruh makhluk di muka bumi.

Hidup di tengah zaman yang berjiwa (zitgeist) kompleks dan chaos/kacau ini mempersyaratkan santri untuk terus melakukan hal yang positif serta mau terus belajar. Belajar mulai dari yang sederhana dengan cara mengetahui dan mengingat sampai dengan belajar yang memungkinkan berkembang dan lahirnya kreativitas.inilah yang disebut dengan santri sebagai orang yang berbeda dan unggul dengan yang lain.

Dengan belajar, akan  membuat santri makin merasa atau rasa-rumasa.Santri dituntut untuk merasakan kekurangan diri, merasakan tugas diri sebagai manusia dan khalifah di muka bumi, merasakan diri sebagai hamba Allah swt. yang tugasnya hanya untuk beribadah tidak ada yang lainnya.

Bagaimanapun juga sejarah pasti akan mencatat setiap peristiwa; tertulis maupun tidak. Setiap orang yang melihat akan memberi persaksian kepada generasi selanjutnya tentang apa ia saksikan pada zamannya; peristiwa, tokoh, kepahlawanan, keadilan, kecerdasan, kebodohan, keberanian, kepengecutan dan lain sebagainya. Catatan sejarah manusia tidak akan pernah sepi dari berbagai kejadian dan kumpulan cerita kehidupan.

Hingga kini, tercatat beberapa nama yang menjadi simbol dari sebuah karakter. Misalnya,dalam kepemimpinan; Nabi Muhammad, dalam keadilan; Umar Bin Khatab, dalam kelembutan; Ahnaf, dalam keberanian; Antarah, dalam kecerdasan; Iyas bin Muawiyah, dalam kedunguan; Habannaqah, dalam syair; Al-Mutanabbi, dalam kebagusan; Nabi Yusuf, dalam kesabaran; Nabi Ayyub, dalam kebohongan; Musailamah, dalam kemunafikan; Abdullah Ibnu Ubay, dalam hikmah dan kebijaksanaan; Luqman, dalam hadits; Al-Bukhari, dan dalam Tasawuf; Al-Junaid.

Di saat hidupnya, mungkin mereka tidak pernah mengira bahwa sosoknya akan dijadikan simbol sebuah sifat tertentu. Mereka menjalani hidup sesuai alur pikiran masing-masing. Tidak ada niat untuk dijadikan sebagai percontohan orang-orang sesudahnya. Tapi kemudian sejarahlah yang mengabadikan namanya, dan tentunya itu semua adalah kehendak dari Allah Yang Maha Kuasa.

Sebagai santri juga pasti akan menjadi bagian sejarah di masa depan. Saat generasi telah berganti; saat jatah hidup dimakan usia, saat umur berlalu mengiringi waktu, saat jarak terpaut begitu jauh dengan masa kehidupan saat ini. Saat itulah generasi baru akan bercerita tentang kakeknya, pamannya, bapaknya atau seseorang (yang mungkin itu saya,anda atau kita) yang pernah diceritakan orang kepadanya.

“Dan begitulah masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” (Q.S. Ali Imran: 140)

Bagi para santri yang hari ini bisa dilakukan adalah merancang sejarah diri sebaiknya-baiknya. Apa yang kita inginkan menjadi citra diriyang baik dimasa yang akan datang.

Saya teringat sebuah nasihat; ”Ukirlah kenangan, lukislah sejarah, dan jalanilah hidup dengan cara terbaik. Bagaimana engkau menjalani hidup, begitu pulalah kesan orang-orang disaat kematianmu”.

Bagi para santri yang mempunyai keunggulan adalah suatu keniscayaan, janganlah mengikuti apa-apa yang kita tidak pernah tahu arah dan tujuannya. Namun ketika suatu perbedaan dalam diri ini adalah sebuah rahmat dari Allah, maka pergunakanlah perbedaan itu untuk membuat makhluk di muka bumi ini merasa nyaman dengan kehadiran kita, merasa adil dengan kepemimpinan kita, merasa aman dalam perlindungan kita dan merasa bangga atas rasa kasih sayang dan cinta kita kepada mereka.

Pokok yang paling utama bagi santri yang ingin nyantri adalah  tetaplah bermental santri, yakni satunya pikiran, sikap dan tindakan kita dalam bingkai kejujuran.

Selamat Hari Santri Nasional semoga anda, saya, kita, selalu dalam Maghfirah dan lindungan Allah swt. Aamiin ya Rabbal `alamin.

Hasbunallah Wani`mal wakil.