Catatan Reflektif Untuk Milangkala ka-46 Tahun

STAI TASIKMALAYA YANG

“NGINDUNG KA WAKTU & MIBAPA KA JAMAN”

(Catatan Reflektif Untuk Milangkala ka-46 Tahun)

Oleh : Ade Zaenul M (Alumni Angkatan 97)

        Tanggal 23 Pebruari 2020 ini STAI Tasikmalaya genap berusia 46 tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk ukuran sebuah kampus perguruan tinggi, apa lagi di jika dibandingkan dengan kampus-kampus yang ada di Tasikmalaya. Para pendiri mendirikan STAI Tasikmalaya (Fakultas Tarbiyah kala itu), tidaklah berbekal sejumlah modal materi atau asset infrastruktur yang memadai. Namun, dengan modal semangat dan keinginan luhur (niyah) dalam mendakwahkan Islam melalui jalur pendidikan, dan tentunya atas rahmat Allah yang Maha Kuasa (rahmatun minallah) maka kampus tersebut dapat berdiri.

        Keberadaan kampus tersebut merupakan suatu berkah tersendiri bagi masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya. Melalui STAI Tasikmalaya, banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi ini tanpa harus jauh jauh-jauh ke luar kota. Bahkan tidak hanya sebatas anaknya, orang tuanya pun ikut berkuliah di kampus ini. Dari hasil kuliah tersebut, telah banyak dirasakan manfaatnya. Banyak alumninya yang berkiprah diberbagai lapangan kehidupan. Tak hanya di sektor pendidikan, pada bidang-bidang lainnya pun tidak sedikit lulusan STAI Tasikmalaya dapat dijumpai.

        Dari awal berdiri sampai sekarang, pastinya banyak dinamika dan tantangan yang lalui. Sejak mahasiswanya berjumlah hanya puluhan orang sampai sekarang berjumlah lebih dari seribu. Sejak bertempat perkuliahan berpindah pindah hingga saat ini memiliki bangunan kampus yang permanen, adalah sesuatu yang harus disykuri dan direfleksikan. Perjalanan panjang tersebut, tidak bisa dilepaskan dari peran perjuangan dan jerih payah, serta kontribusi banyak pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, termasuk para pendahulu yang sudah mendahului kita.

        Momen milangkala ka-46, adalah momen yang tepat untuk kita semua sebagai keluarga beasar STAI Tasikmalaya untuk mendoakan para pendahulu dan siapapun yang telah berjasa kepada STAI Tasikmalaya (Allhummaghfirlahum / Lahum Al-Fatihah), dan berterimakasih kepada siapapun yang telah berkonsribusi terhadap STAI Tasikmalaya. Momen ini pun juga harus dijadikan sebagai salah satu sarana untuk mengenang jasa dan mentransformasikan spritit dan semangat perjuangan para pendahulu pada generasi saat ini. Salah satunya adalah semangat dan misi pendirian STAI Tasikmalaya sebagai kampus dakwah, tidak boleh hilang. Semangat itu justru harus terus dijaga dan dirawat, bahkan harus terus dikembangkan. Harus terus menyala dan menjadi energi serta motivasi dalam mengelola dan memajukan (ngaronjatkeun) kampus.

        Seiring perkambangan zaman yang selalu berubah dengan cepat, sepertihalnya kampus-kampus yang lain, STAI Tasikmalaya akan menghadapi tantangan zaman yang tidak mudah. Dibutuhkan kemampuan membaca dan menterjemahkan fenomena dan tuntutan zaman, agar bisa tetap eksis dan maju. Kesiapan SDM yang handal dan tata kelola yang modern merupakan suatu prasyarat utama. Puji syukur Alhamdulillah dalam kurun 2-3 tahun terakhir ini, STAI Tasikmalaya selalu mendapatkan predikat terbaik di lingkup kopertais Jabar-Banten, untuk kategori sekolah tinggi. Prestasi tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa dan sangat membanggakan. Sesuatu yang patut diapresiasi. Namun dengan prestasi tersebut tidak boleh merasa berpuas diri, sebab tanggung jawab dan tantangan yang dihadapi menjadi lebih berat lagi. Jika pada lingkup kopertais (Jabar-Banten) sudah mampu berprestasi, maka menjadi tantangan “naik level” untuk berprestasi di pentas nasional, bahkan di lingkup internasional. Penulis yakin, ini tidak berlebihan. Apa lagi di era sekarang ini, di mana pergaulan manusia sudah di lingkup global dengan segala dimensinya, maka tantangan bagi STAI Tasikmalaya adalah, ia harus mampu hadir dalam mengisi dlam dimensi ruang dan waktu tersebut.

        Tidak mudah memang, namun bukanlah sesuatu yang mustahil. Selain komitmen dan semangat yang tinggi, diperlukan jiwa rancage dan kemampuan kreatifitas dan inovasi (ijtihad) untuk dapat memajukan kampus. Era disrupsi adalah era yang memberikan banyak peluang untuk maju dan berkembang, namun sekaligus ada mesin penggilas di dalamnya. Banyak contoh, perusahan yang kecil tiba-tiba menjadi sangat besar, namun banyak pula perusahaan raksasa yang kemudian menjadi punah. Zaman akan bersahabat bagi siapapun yang mampu beradaptasi dengannya, namun sebaliknya akan kejam bagi siapapun yang tak mampu memeluknya.

        Selanjutnya, eksis tidaknya sebuah kampus pun tidak bisa dilepaskan dengan masyarakat sebagai satakeholdernya. Kampus akan tetap hidup bahkan akan terus berkembang, jika keberadaanya dianggap penting dan dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, sebaliknya manakala keberadaanya tidak dianggap penting dan tidak diperlukan, maka dengan sendirinya ia akan mati dan punah. Maka pertanyaan reflektifnya pada momen milangkala ini adalah sampai sejauh mana kampus ini hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan manfaat dan menjawab berbagai pesoalan ada. Jawaban dari pertanyaan tersebut, dapat menjadi indikator sampai sejauh mana STAI Tasikmalaya akan dapat bertahan dan terus berkembang di masa depan.

        Semangat ngindung ka waktu, mibapa ka zaman, tidak boleh hanya jadi slogan atau pamantes dalam setiap acara milangkala. Namun ia harus menjadi ethos dalam berselancar mengarungi tuntutan waktu dan zaman yang begerak dan berubah sangat cepat. Dalam menghadapi tantangan zaman ini, akankah STAI Tasikmalaya nanjeur, nanjung jeung jamuga, ataukah hirup teu neut paeh teu hos. Itu tergantung sampai sejauh mana ngindung ka waktu, mibapa ka zaman dapat diselami dan diterjemahkan dalam konteks yang lebih praksis. Wal-Ashri.

Wilujeng Milangkala 43 Taun, STAI Tasikmalaya masing nanjung jeung jamuga, kalayan aya dina ridha Allah SWT. Yakin insya Allah usaha bakal dugi.