Budaya Organisasi

BUDAYA ORGANISASI
(Aktualisasi haq dan batil)

Oleh: Danial Kusumah

Danial Kusumah

        Budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Cipta merepresentasikan olah pikir dan imajinasi. Rasa menggambarkan reaksi hati terhadap sesuatu (indra). Sedangkan kekuatan, ghiroh, motivasi dalam berkehendak dan bertindak adalah partikel dari karsa. Budaya dapat berbentuk sistem pengetahuan, bangunan pendidikan, atau kontekstualisasi agama. Makna budaya tidak boleh dikerdilkan dengan satuan ritual, habituasi, konsensus perilaku. Kolaborasi trilogi elemen abstrak manusia tersebut melahirkan sebuah karya. Setiap buah pikir, olah rasa, dan keinginan yang diaktualisasikan dalam seluruh sistem kehidupan, menembus ruang geografis, dari masa ke masa, dan menjadi norma bagi laku manusia, berhak untuk menyandang gelar budaya.

       Unsur masa (waktu-sejarah) tidak dapat dilepaskan dari terminologi budaya. Kredo atas kebenaran dan kebaikan sejarah (masa lampau) menjadi warisan bagi masa kini dan investasi kelak. Nilai-nilai, simbol, artefak, cita-cita (visi) adalah warisan. Manifestasi karya masa lalu dan investasi kondisi ideal di masa yg akan datang. Seturut itu, warisan bukan peninggalan materiil apalagi sekadar harta benda. Sehingga melalui definisi itu akan terbangun sebuah jembatan yg dinamai “pelestarian”, tentunya dg prasyarat bahwa legasi tersebut memenuhi kriteria positif, baik/maslahat, dan tidak mengungkung potensi lain untuk bersenyawa dengannya (liberasi).

        Pelestarian adalah ikhtiar untuk membentengi diri dari tekanan perubahan dan dampak negatif suatu aktivitas. Peletarian berperan sebagai penjaga: melindungi diri, mencegah, status quo, anti-disrupsi dalam kerangka menjaga kemurnian falsafah. Namun paradigma tersebut akan menutup ruang ekspresi, mengisolasi diri, serta membuat terpenjara dalam masa lalu. Perlu adanya identifikasi koherensi fungsi pelestarian untuk menarik benang merah antara masa lalu-masa kini-masa depan. Tampaknya adaptasi dapat dijadikan orientasi gerak untuk saat ini, harapan kemudian, dan pada akhirnya bermuara menuju jalan baru bernama “kemajuan”. Agar terjamin kesinambungan (survive-maju), -sesuatu- harus bergerak dinamis, fleksibel, mengikuti perkembangan zaman (adaptif-konstruktif) tetapi tetap berpegang teguh pada jaring kewaspadaan (selektif).

        Bagaimana mengejawantahkan makna budaya (aksiologi) dalam organisasi? Setidaknya ada tiga urgensi (menurut pandangan subjektif penulis). Pertama, konteks ke teks. Mengamati objek, membaca dinamika, elaborasi fenomena, dengan menggunakan pisau analisis pengetahuan (pendekatan ilmu-induksi) kemudian mengontruksi, strukturisasi, formulasi ke dalam hukum positif (baca: peraturan) yang berbasis al-qur’an dan hadits (pendekatan wahyu-deduksi). Peraturan ini menjadi pijakan perilaku, justifikasi nilai, dan konsensus salah-benar atas sebuah tindakan atau kinerja seseorang.

        Kedua, profesionalitas ke integritas. Setiap individu yg telah menempuh jenjang pendidikan formal, ditunjang oleh dokumen yg legal (ijazah), dan bekerja dalam sebuah organisasi/perusahaan dapat dinyatakan sebagai tenaga profesional. Ia (seharusnya) mampu -berdasarkan kontrak kerja- melaksanakan tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) sesuai dengan kompetensi yg dimilikinya. Untuk mengukur relasi profesionalitas terhadap kinerja terdapat variabel intervening berupa integritas. Penulis membatasi definisi integritas sebagai kejujuran. Seseorang yg memiliki kesesuaian kualifikasi dan kompetensi tidak selalu berbanding lurus terhadap produktifitas kerja atau kinerjanya. Ketika individu tidak jujur,maka agama (Tuhan) di-mistifikasi dan peraturan di-reinterpretasi sehingga setiap tindakan diyakini benar atas dasar pertimbangan subjektif, menegasikan asumsi/persepsi publik, mengubah tupoksi menjadi diskresi.

        Ketiga, individualisme ke altruisme. Mengutamakan kemaslahatan umum dibandingkan kepentingan pribadi merupakan manifestasi keluhuran spiritualitas. Namun, menjunjung tinggi kebenaran (agama) diatas kebaikan (sosial) adalah kemapanan transendensial (ketuhanan). Bukan pengukuhan dikotomi aktivitas ritual dan aktivitas sosial. Tidak pula memisahkan dimensi ilahiyah dan dimensi insaniyah.

 

Walā talbisul haqqo bil-bātili wataktumul haqqo waantum ta’lamūn