AKAL DAN TAWAKAL

AKAL DAN TAWAKAL

Oleh: Danial Kusumah

 

        Di negara tempat tenggelamnya matahari, ada beberapa paham yang menegasikan peran Tuhan dalam mengelola hidup dan kehidupan, semesta dan bumi, manusia dan kemanusiaan. Ada yang beragama dan tidak beragama tapi menolak keberadaan-Nya (nonteisme), mengasingkan agama (sekuler), juga yang memerangi -tidak percaya- agama (ateisme). Mereka menganggap Tuhan merupakan imajinasi, agama adalah ilusi, surga neraka sebagai delusi. Keberadaan Tuhan dianggap mengungkung potensi akal manusia. Pasrah (tawakal) diasumsikan sebagai bentuk ketidakberdayaan menghadapi realita. Iman diartikan ketergantungan atas ketidakmampuan individu. Ibadah sebagai ritual kompulsif yang dapat menyebabkan anomali fungsi otak.

        Pandangan mereka didasarkan pada rasionalisasi dan objektifikasi. Menganggap perintah dan larangan Tuhan merupakan sistem otoritarian. Memaksa manusia untuk melakukan sesuatu yang diartikan sebagai ketundukan kepada kekuasaan tanpa tedeng aling-aling. Manusia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, diperbudak kekuatan mistis, diperalat oleh invisible hand. Kepasrahan (tawakal) menghambat potensi diri untuk berkembang, menyerah kepada masalah, mengalah kepada kenyataan. Apabila manusia dikonfrontasi oleh masalah hidup dan berpikir bahwa tidak ada siapapun dan kekuatan manapun yang dapat menolongnya, maka ia akan mengoptimalkan potensi akalnya, segenap tenaga, dan alat produksi biologisnya untuk menyelesaikan problema. Ketika persoalan teratasi, secara tidak sadar dia telah membangun energi positif dan mengokohkan pondasi karakter yang akan mengembangkan dirinya, sehingga siap untuk mengahadapi dinamika hidup lainnya.

        Dialektika akal, persepsi, dan paradigma -bagi ateis- harus didirikan diatas sistem berpikir yang rasional dengan alat ukur sains (ilmu pengetahuan). Penggunaan intuisi ditarik dari fakta empiris. Metode pengambilan keputusan bersumber dari pengalaman faktual. Pun religiusitas harus dijauhkan dari pemaknaan abstrak. Sikap religius ditujukan untuk pemurnian jiwa, ketenangan bathin, dan independensi rasa, hampa nilai-nilai ketuhanan (profanitas). Hak individu dalam norma agama gugur oleh konsep otoritas. Agama memiliki kewenangan untuk berbuat sewenang-wenang dengan mengatur setiap langkah bahkan niat manusia. Menurut mereka, seharusnya teistik menganut prinsip memanusiakan manusia, memerdekakan segala bentuk penjajahan lahir maupun bathin, mengalienasi kediktatoran, dan panasea jiwa. Padahal agama (baca: islam) mengakomodir wacana-wacana tersebut. Islam merupakan rahmat bagi semesta –rahmatan lil ‘alamin-. Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama Islam, mengatur kehidupan manusia secara secara berimbang. Aspek ketauhidan mengatur hubungan manusia dengan penciptanya dalam bentuk shalat, puasa, menunaikan ibadah haji, dan sebagainya. Aspek muamalah mengatur hubungan manusia dengan manusia. Bertebarannya manusia di muka bumi menuntut adanya interaksi sosial guna menyeimbangkan kepentingan dan berbagi sumber daya. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna (mulia). Kesempurnaan tersebut terletak pada akal yang dianugerahkan kepadanya. Akal ditanam untuk “membebaskan” manusia dalam menentukan nasibnya (humanisasi). Akal menyeimbangkan impuls, mengarahkan pada tujuan. Burung menganyam sarang untuk bereproduksi, berang-berang menyusun ranting dan kayu sebagai media perlindungan diri, lebah berkoloni mendirikan benteng pertahanan, seperti halnya manusia membangun rumah untuk berkeluarga. Pembeda atas tujuan-tujuan tersebut adalah motivasi yang mendasari perilaku itu. Hewan dimotivasi oleh insting (naluri), sedangkan manusia didorong oleh kebutuhan yang diasosiasi oleh akal. Keberadaan rumah tidak hanya untuk tempat makan, memamah biak, dan bertahan hidup. Rumah adalah entitas kecil untuk memulai dan menghadapi tujuan hidup lainnya.

        Perjalanan profetik turut berkontribusi pada kemajuan peradaban, sehingga dalam mengurai tatanan sosial-kemasyarakatan tidak bisa lepas dari peran sejarah. Kondisi saat ini adalah relasi antara sejarah dan pergumulan pemikiran yang datang setelahnya. Islam tidak hanya berperan –sebagaimana harusnya- sebagai agama otoritarian, islam sebagai agama humanistik dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Isu perbudakan dan wanita (hak asasi dan gender) merupakan patologi sosial yang mendapatkan perhatian khusus dari Islam. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim menjelaskan sabda Rosul, siapapun yang membebaskan budak, niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota badannya. Riwayat lain menceritakan bahwa siapa saja seorang muslim yang membebaskan seorang budak yang muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah dab sahabat yang lain). Begitu pula dalam hal gender, Islam memuliakan dan menjaga wanita. Secara lugas islam menyatakan keberpihakannya terhadap wanita melalui wahyu yang tertuang dalam AL-Qur’an, artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa, 4: 19). Rosululloh SAW juga sering mengingatkan agar menghormati dan memuliakan kaum wanita. Diantaranya hadits riwayat Muslim menerangkan bahwa Rosul berwasiat agar berbuat baik kepada para wanita. Diperkuat lagi lewat hadits: ”Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalag yang paling baik terhadap istriku.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam ash-shahihah: 285). Jelaslah bahwa stigma negatif yang selama ini disebarkan oleh pemikir barat terhadap ajaran islam yang dianggap merendahkan martabat wanita dan memasung kebebasannya adalah sesat.

        Perihal kepasrahan, dalam terminologi islam kita kenal dengan istilah tawakal. Kesalahan harfiah tawakal oleh para pemikir barat terletak pada penguraian proses. Tawakal adalah berserah diri kepada kekuatan diluar manusia (Allah) setelah menjalani rangkaian ikhtiar (usaha) yang disertai dengan doa. Tawakal merupakan ekspresi kerendahan hati kepada dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Mengasihi. Manusia yang bertawakal memercayai bahwa ada kekuatan diluar dirinya yang mengatur segala sesuatu yang terjadi di jagat ini. Dia tidak menyerah, tidak berdiam diri (jabariyah), tidak pula mengingkari (qodariyah), dan bukan kepasrahan atas ketidakberdayaan. Tawakal adalah proses akhir dari tahap demi tahap upaya yang telah dilakukan untuk sesuatu yang dikehendaki -manusia-kepada yang menghendaki –Tuhan- atas dasar kesadaran dan kerendahan hati. Sedangkan kepasrahan adalah bentuk kerendahan diri atas ketidakmampuan dan atau ketidakmauan untuk berusaha memenuhi apa yang dikehendaki/dihadapi. Maka untuk membedakan dengan manusia lainnya, dalam merespon dinamika hidup, seorang muslim hendaknya mengoptimalkan fungsi akal sebagai bentuk ke-manusiaan-nya dan bertawakal sebagai bentuk ke-mahlukan-nya.